hover animation preload
Showing posts with label Pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Pembelajaran. Show all posts

Pengertian Menulis
by Wisma Widhi in

Pengertian Menulis
Menurut Tarigan (Hasani, 2005:1) menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan grafik tersebut. Rusyana (Hasani, 2005:1) menyatakan bahwa wujud.
Pengutaran sesuatu secara tersusun dengan mempergunakan bahasa disebut karangan.
Menurut Syamsudin (Hasani, 2005:1) Menulis adalah aktivitas seseorang dalam menuangkan ide-ide, pikiran, dan perasaan secara logis dan sistematis dalam bentuk tertulis sehingga pesan tersebut dapat dipahami oleh para pembaca
Menurut Hasani (2005:2) menulis merupakan keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Menulis merupakan kegiatan yang produktifdan ekspresif, sehingga penulis harus mampu memanfaatkan kemampuan dalam menggunakan tata tulis, struktur bahasa, dan kosakata.
source: pilihan tepat
Comments (0)

Pengertian Membaca Cepat
by Wisma Widhi in

BERLATIH MEMBACA CEPAT
Oleh: Imron Rosidi, M.Pd


            Berbagai informasi di era globalisasi saat ini semakin mudah diterima dan semakin gencar masuk ke negara kita. Hal ini disebabkan semakin bervariasi dan canggihnya media informasi. Hasil-hasil penelitian serta kemajuan ilmu dan teknologi begitu cepat dipublikasikan dan disebarkan. Satu judul buku tentang suatu masalah yang menjadi perhatian kita belum sampai separuhnya dibaca telah disusul judul buku baru, apalagi sejak kemunculan internet. Padahal, waktu yang kita miliki sampai saat ini tetap, 24 jam setiap harinya, tidak terus bertambah seperti informasi tersebut. Akibatnya, banyak informasi yang tidak sempat kita serap. Hal ini disebabkan beberapa faktor, salah satunya adalah kecepatan membaca kita yang masih perlu ditingkatkan.
            Membaca merupakan suatu proses dinamis untuk merekonstruksi suatu pesan yang secara grafis dikehendaki oleh peneliti (Goodman 1996). Dalam perkembangan studi membaca dikenal tiga pandangan tentang proses membaca. Pandangan pertama biasa disebut dengan pandangan kuno. Pandangan ini menganggap membaca sebagai proses pengenalan simbol-simbol bunyi yang tercetak (Harris dalam Olson, 1982). Pandangan kedua, membaca sebagai suatu proses pengenalan simbol-simbol bunyi yang tercetak dan diikuti oleh pemahaman makna yang tersurat (Carrol dalam Olson, 1982). Pandangan ketiga disebut pandangan modern, membaca bukan sekadar pemahaman dan pengenalan simbol tercetak saja, tetapi lebih jauh, yaitu sebagai proses pengolahan secara kritis.
            Mengenai cara membaca dikenal empat macam, yaitu: reguler (biasa), melihat dengan cepat, mengilas, dan kecepatan tinggi. Pertama, cara membaca reguler (biasa). Kedua, cara membaca melihat dengan cepat Skimming). Ketiga, cara membaca melihat sekilas (Scanning), dan keempat cara membaca kecepatan tinggi (Warp Speed).
            Kemampuan membaca cepat seseorang harus dibarengi dengan kemampuan memahami isi bacaan. Seseorang dapat dikatakan memahami isi bacaan secara baik apabila ia dapat (a) mengenal kata-kata atau kalimat yang ada dalam bacaan atau mengetahui maknanya, (b) menghubungkan makna, baik konotatif maupun denotatif yang dimiliki dengan makna yang terdapat dalam bacaan, (c) mengetahui seluruh makna tersebut atau persepsinya terhadap makna itu secara kontekstual, dan (d) membuat pertimbangan nilai isi bacaan yang didasarkan pada pengalamannya.
            Kemampuan membaca cepat seseorang bisa ditingkatkan. Pada saat mulai belajar membaca di sekolah dasar dipelajari huruf-hurufnya, lalu menghubungkan huruf menjadi kata, selanjutnya menjadi kalimat tanpa mengeja huruf demi huruf. Untuk meningkatkan kecepatan membaca, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyingkirkan mitos yang berbunyi: (1) membaca itu sulit, (2) tidak boleh menggunakan jari ketika membaca, (3) Membaca harus dilakukan dengan mengeja kata per kata, dan (4) harus membaca perlahan-lahan supaya dapat memahami isinya.

Pengertian Membaca Cepat
            Membaca cepat adalah perpaduan kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitif seseorang dalam membaca. Membaca cepat merupakan perpaduan antara kecepatan membaca dengan pemahaman isi bacaan. Kecepatan membaca yang seseorang harus seiring dengan kecepatan memahami bahan bacaan yang telah dibaca.
            Ketika kita membaca cepat suatu bacaan, tujuan sebenarnya bukan untuk mencari kata dan gambar secepat mungkin, namun untuk mengidentifikasi dan memahami makna dari bacaan tersebut seefisien mungkin dan kemudian mentransfer informasi ini kedalam memori jangka panjang dalam otak kita. Kemampuan membaca cepat merupakan keterampilan memilih isi bacaan yang harus dibaca sesuai dengan tujuan, yang ada relevansinya dengan pembaca tanpa membuang-buang waktu untuk menekuni bagian-bagian lain yang tidak diperlukan.
            Dalam membaca cepat terkandung di dalamnya pemahaman yang cepat pula. Pemahaman inilah yang diperioritaskan dalam kegiatan membaca cepat, bukan kecepatan. Akan tetapi, tidak berarti bahwa membaca lambat akan meningkatkan pemahaman, bahkan orang yang biasa membaca lambat untuk mengerti suatu bacaan akan dapat mengambil manfaat yang besar dengan membaca cepat. Sebagaimana pengendara mobil, seorang pembaca yang baik akan mengatur kecepatannya dan memilih jalan terbaik untuk mencapai tujuannya. Kecepatan membaca seseorang sangat tergantung pada materi dan tujuan membaca, dan sejauh mana keakraban pembaca dengan materi bacaan.

Media Berlatih Membaca Cepat
            Dalam Kegiatan Belajaran Mengajar (KBM), siswa selalu berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur oleh guru melalui proses pembelajaran. Lingkungan belajar tersebut meliputi tujuan pembelajaran, bahan pembelajaran, dan metodologi pembelajaran. Dalam metodologi pembelajaran, ada dua aspek yang paling menonjol, yaitu metode pembelajaran dan media pembelajaran sebagai alat bantu pembelajaraan.
            Media yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat siswa bisa menggunakan transparansi yang dibantu dengan OHP, bisa juga dengan menggunakan software membaca cepat. Media ini memiliki manfaat antara lain (1) pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga diharapkan dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa, (2) materi pembelajaran lebih jelas maknannya sehingga siswa lebih menudah memahami, (3) metodologi pembelajaran lebih bervariasi, dan (4) pembelajaran terfokus kepada siswa dengan melakukan berbagai aktivitas.
            Media pembelajaran membaca cepat yang dapat digunakan dalam meningkatkan kemampuan membaca cepat terbagi atas dua jenis, yaitu (1) media pembelajaran membaca cepat untuk pelatihan awal, dan (2) media pembelajaran membaca cepat untuk pengukuran. Kedua jenis media ini diuraikan secara rinci sebagai berikut.

1) Media Pelatihan Awal
            Media pembelajaran membaca cepat yang digunakan untuk pelatihan awal memiliki berbagai variasi. Variasi media pelatihan membaca cepat ini bertujuan untuk (1) melatih gerak mata siswa (fiksasi), (2) melatih konsentrasi, (3) melatih persepsi siswa, dan (4) melatih daya ingat. Keempat variasi media pelatihan awal ini disampaikan kepada siswa sebelum dilakukan pengukuran membaca cepat siswa secara utuh.
            Media pelatihan awal membaca cepat yang bertujuan untuk melatih gerak mata memiliki dua variasi. Media pertama berupa dua lingkaran kecil dalam satu garis horizon yang memiliki jarak yang berbeda dalam setiap barisnya. Siswa perlu melihat lingkaran tersebut secara cepat tanpa menggerakkan kepala.
            Media yang kedua berupa urutan angka maupun abjad yang diacak dalam sebuah kotak (persegi panjang). Di dalam persegi panjang berikut terdapat dua puluh enam huruf (A – Z) dan angka 1 – 50. Siswa perlu menarik secepat mungkin garis yang menghubungkan huruf atau angka yang ada secara berurutan dengan cepat dan dicatat waktu tempuhnya dengan mengurangi waktu selesai baca dengan waktu mulai baca.
            Media pelatihan awal membaca cepat yang bertujuan untuk melatih konsentrasi siswa berupa urutan gambar yang disusun secara vertikal dengan jumlah yang berbeda. Bentuk gambar yang disusun secara vertikal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan siswa atau yang biasa ditemui siswa di sekolah. Tanpa menggunakan jari, siswa menghitung jumlah gambar dengan durasi waktu tidak lebih dari 30 detik dan menuliskan pada lingkaran yang tersedia.
            Media pelatihan awal lainnya bertujuan untuk melatih persepsi siswa. Media ini berbentuk deretan kata yang disusun secara horisontal maupun vertikal. Siswa mencoret atau berusaha menemukan kata yang sama dengan kata kunci yang telah ditentukan.             Selanjutnya, media pelatihan awal yang bertujuan untuk melatih daya ingat siswa berupa serangkaian gambar maupun angka yang ditunjukkan secara cepat (tidak lebih dari 30 detik) kepada siswa, selanjutnya siswa menggambarkan kembali.
            Dari berbagai media pelatihan awal tersebut diharapkan siswa memiliki kemampuan dalam menggerakkan mata dan memiliki daya ingat yang cukup baik.

Media Pengukuran Kemampuan Membaca Cepat Siswa
            Sesesorang yang sedang membaca cepat sebuah bacaan hendaknya dapat mengondisikan otak bekerja lebih cepat sehingga konsentrasi akan lebih membaik secara otomatis. Dengan demikian, kemampuan membaca cepat merupakan kemampuan seseorang dalam memadukan kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitifnya atau pemahaman isi bacaan melalui menjawab pertanyan-pertanyaan yang berhubungan dengan bacaan.
            Di negara-negara maju, khususnya Amerika, telah dilakukan penelitian tentang kecepatan membaca siswa dalam setiap jenjang pendidikan. Kecepatan membaca siswa Amerika untuk setingkat SD/Diniyah di Indonesia adalah 140 kpm, setingkat SLTP/MTs adalah 140 s.d 175 kpm, setingkat SMA/SMK/MA adalah 175 s.d 245 kpm, dan setingkat perguruan tinggi 245 s.d 280 kpm. Untuk kaum profesional, kecepatan membacanya bisa mencapai 500 kpm.
            Untuk mengukur kemampuan membaca cepat siswa, ada dua aspek yang perlu diukur, yaitu aspek kecepatan membaca dan aspek pemahaman. Aspek kecepatan membaca dapat diukur dengan jumlah kata dalam bacaan yang dibaca dibagi dengan selisih antara waktu akhir baca dengan awal baca, sedangkan pemahaman dihitung dengan membagi skor yang diperoleh siswa dengan skor maksimal yang bisa didapat siswa. Hasil perkalian antara kecepatan membaca dengan pemahaman menghasilkan kecepatan efektif membaca (KEM). Secara konkret, rumus kecepatan efektif membaca (KEM) adalah sebagai berikut.

  (1)   K    x    B = …… kpm (kata permenit)
         Wm      Si

                     atau

  (2)   K.   (60)    x    B = ……. Kpm (kata permenit)
         Wd                 Si

  Keterangan:
  K : jumlah kata yang dibaca                  B : Skor yang diperoleh siswa
  Wn: waktu baca dalam satuan menit      Si : Skor ideal atau skor maksimal
  Wd: waktu baca dalam satuan detik       kpm : kata perminit

            Media pembelajaran untuk mengukur kemampuan kecepatan membaca cepat siswa tentunya berupa sebuah bacaan dan pertanyaan-pertanyaan yang digunakan untuk mengukur pemahaman siswa. Bacaan dapat diambil dari berbagai media informasi, baik media elektronik maupun nonelektronik.
            Media pembelajaran membaca cepat yang bersifat manual ini tentunya membutuhkan tenaga lebih dari para guru, terutama dalam mengoreksi hasil pemahaman siswa. Hal ini bisa diatasi dengan penggunaan software membaca cepat. Software ini telah penulis buat dan sampai saat ini belum penulis hak patentkan, tetapi sudah penulis uji cobakan.

Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca Cepat
            Kemampuan membaca cepat merupakan kemampuan seseorang dalam memadukan kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitifnya atau pemahaman isi bacaan melalui menjawab pertanyan-pertanyaan yang berhubungan dengan bacaan. Untuk itu, untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat, seseorang harus dapat meningkatkan kemampuan motorik dan kemampuan kognitifnya.
            Kemampuan motorik dapat ditingkatkan dengan selalu berlatih viksasi. Pelatihan viksasi dapat dilakukan dengan cara: (1) senam mata yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik (melihat lingkaran hitam, mengurutkan abjad dan angka, membaca per kelompok kata, mendata kata yang sama), (2) meningkatkan kemampuan kognitif dengan melatih daya ingat (mengingat angka, mengingat gambar), dan (3) terus berlatih membaca cepat (membaca bacaan dan menjawab pertanyaan).
            Dengan demikian, tidak ada kata lain untuk meningkatkan kemampuan membaca seseorang selain berlatih terus menerus dan menjadikan kegiatan membaca sebauh budaya, bukan dipaksakan. Tanpa membaca kita akan menjadi orang yang kerdil, buta pengetahuan luar, dan kurang dapat bersosialisasi. Ingat, informasi terus berjalan dengan derasnya, sedangkan waktu kita tetap dapat setiap harinya, yaitu 24 jam per hari. Untuk itu, tingkatkan kemampuan membaca cepat Anda.


source: umar bakri
Comments (0)

Hambatan Menulis
by Wisma Widhi in

Hambatan dalam Menulis

Dalam buku Main-Main dengan Teks (Kaifa, cetakan ke-2, 2005), saya mengidentifikasi pelbagai hambatan menulis dalam dua bentuk, yaitu hambatan yang bersifat internal dan eskternal.
Kemudian, dua jenis hambatan tersebut memendam dua hambatan lain, yaitu yang bersifat teknis dan nonteknis.
Saya kadang lebih menekankan untuk mengatasi terlebih dahulu hambatan internal dan hambatan nonteknis. Sebab jika hambatan ini tak dipecahkan tuntas, ada kemungkinan besar kita belum dapat mengatasi hambatan utama menulis, meski hambatan teknis sudah kita pecahkan.
Hambatan internal adalah hambatan menulis yang ada di dalam diri si calon penulis. Sebagian besar hambatan internal bersifat nonteknis. Contohnya adalah munculnya rasa malas untuk berlatih menulis, tidak memiliki motivasi untuk habis-habisan menulis, atau senantiasa tidak puas (merasa tidak percaya diri) dengan hasil tulisannya. Bisa jadi, seorang penulis yang memiliki hambatan internal ini sudah memiliki kemampuan atau, bahkan, bakat menulis. Namun, kemampuan atau bakat menulis yang dimilikinya itu akhirnya tidak dapat digunakan karena hambatan internal yang tak terpecahkan.
Hambatan eksternal adalah hambatan yang disebabkan oleh syarat-syarat yang dimunculkan oleh pihak kedua atau pihak di luar diri sang penulis. Hambatan eksternal ini biasanya berupa aturan dan sebagian besar harus di penuhi oleh si penulis dengan cara meningkatkan keterampilan menulisnya. Jadi, sifatnya lebih pada persoalan teknis. Contoh hambatan eksternal ini, misalnya, adalah kalimat yang tidak memenuhi kaidah-kaidah kebahasaan, bahasa-tulis yang tidak mengalir dan sangat membosankan, atau, bahkan, kadang adanya kehampaan ide (ide yang dikandung dalam tulisan tidak baru dan tidak ada kesegaran atau terobosan).
Tentu, ada banyak sekali jenis hambatan menulis yang pernah dialami oleh setiap calon penulis. Dalam tulisan ini tentu tidak dapat disebutkan satu per satu secara detail. Ada kalanya, hambatan menulis itu sangat khas atau unik dan hanya muncul pada beberapa penulis.
Namun, ada juga hambatan menulis yang universal, artinya dialami oleh hampir semua calon penulis. Salah satu syarat menjadi penulis hebat yang berkarakter adalah berani dan mampu mengatasi hambatan-hambatan menulis. Dan kadang-kadang solusi untuk mengatasi suatu jenis hambatan menulis bergantung hampir mutlak pada kemauan.
Bagaimana mengatasi hambatan menulis?
***
Jika ada banyak sekali hambatan menulis, tentu ada banyak sekali juga cara mengatasi hambatan menulis. Saya ingin memperkenalkan dua cara mengatasi hambatan menulis yang sering dialami oleh para penulis.
Cara pertama saya sebut metode ”mengikat makna”, terutama untuk mengatasi hambatan menulis berupa rasa malas atau tiadanya motivasi menulis. Cara kedua saya sebut teknik ”clustering”, dan teknik ini terutama untuk mengatasi sulitnya mengembangkan ide.
Mengikat Makna akan menunjukkan kepada siapa saja, yang ingin menerjuni dunia baca-tulis, bahwa membaca memerlukan menulis dan menulis memerlukan membaca. Benar, jika ada orang yang ingin menjalankan kegiatan membaca saja atau menulis saja pastilah tidak akan ada yang melarang.
Namun, lewat pengalaman saya yang saya bukukan dalam Mengikat Makna, ternyata jika kita selesai membaca sesuatu dan kita tidak mencoba melanjutkannya dengan “mengikat” (menuliskan) apa-apa yang kita baca, ada kemungkinan yang kita baca itu akan mudah sekali lenyap. Dengan “mengikat”, secara otomatis, kita pun kemudian dapat memperkaya diri kita dengan kata-kata. Hal terakhir ini sangat-sangatlah penting.
Diri yang sudah kaya akan kata-kata ini kemudian akan mudah sekali menjalankan kegiatan menulis. Hal ini dikarenakan jika membaca dapat diartikan sebagai memasukkan kata-kata ke dalam diri, menulis adalah mengeluarkan apa saja yang disimpan oleh diri dengan bantuan kata-kata. Jika kita miskin kata, otomatis kegiatan menulis akan menyiksa kita. Jadi, “mengikat makna” akan mengefektifkan kegiatan membaca sekaligus meningkatkan keterampilan menulis.
Mengikat Makna juga mengarahkan seorang penulis untuk senantiasa menuliskan apa-apa yang penting dan berharga bagi dirinya. Jadi, bacalah buku dan ambillah dari buku itu sesuatu yang berharga. Setelah mendapatkan sesuatu yang berharga, “ikatlah” (tulislah) agar yang berharga itu tidak musnah. “Sesuatu itu menjadi bermakna jika sesuatu itu memang penting dan berharga bagi diri pribadi,” demikian Kamus Webster mendefinisikan apa arti makna.
Makna memang terkait dengan diri pribadi. Kegiatan “mengikat makna” adalah kegiatan yang sangat pribadi. Kegiatan yang memadukan membaca dan menulis ini harus dilakukan di “ruang privat”. Ketika Anda menjalankan kegiatan “mengikat makna”, tidak ada orang lain yang ikut campur di situ. Anda sendirian. Anda hanya bergulat dengan diri Anda meskipun Anda membaca dan menuliskan pikiran orang lain. Oleh sebab itu, ketika Anda menjalankan kegiatan “mengikat makna”, gunakanlah kata ganti orang pertama. Diharapkan ketika Anda menuliskan bahan tulisan Anda, diri Anda benar-benar Anda libatkan secara total!
***
Teknik ”clustering” ditemukan oleh Dr. Gabriele L. Rico. Dr. Rico mengembangkan teknik ini dari metode ”mind mapping” (pemetaan pikiran) temuan Tony Buzan. Di samping memanfaatkan dua belahan otak yang bekerja dengan cara berbeda, yaitu otak kanan dan otak kiri, Dr. Rico memanfaatkan ”jembatan” yang menghubungkan antara dua belahan itu yang disebut ”corpus callosum”. Menulis yang baik memang harus menggunakan dua belahan otak atau mengaktifkan ”corpus callosum”.
Ide itu sesungguhnya pasti dimiliki oleh setiap penulis. Hanya, kadang ide yang dimiliki seorang penulis itu bukan merupakan ide yang cemerlang. Jika ide itu hanya berupa ide biasa, tentulah si penulis perlu mengembangkan ide tersebut menjadi ide yang kaya dan sangat ”powerful”. Nah, saya sering menggunakan teknik ”clustering” ini untuk mengembangkan ide yang biasa-biasa saja menjadi ide yang hebat.
Hanya, sebelum menggunakan teknik ”clustering” ini, perlu diperhatikan oleh setiap penulis bahwa di dalam sebentuk ide, ada dua sisi yang harus diperhatikan. Sisi pertama adalah sisi bahasa, dan sisi kedua adalah sisi materi (content). Ide hanya akan dapat dikembangkan jika si penulis memiliki kekayaan kata. Jika si penulis miskin bahasa, ide tersebut tentu tidak akan dapat dikembangkan (atau dibahasakan) lewat rumusan yang dahsyat.
Ringkasnya, ide yang dahsyat tentu ditopang oleh kepemilikan bahasa yang sangat kaya dan beragam. Dalam bahasa saya, bahasa yang sangat kaya dan beragam itu saya sebut sebagai bahasa yang ”bergizi”. Dan untuk memiliki bahasa yang ”bergizi”, seorang penulis harus sudah terbiasa dan ”rakus” membaca buku-buku yang ”bergizi”. Buku-buku yang ”bergizi” adalah buku-buku yang memiliki bahasa-ungkap tulis yang sangat jernih (bening), menggerakkan (ketika membaca buku tersebut, pikiran yang membaca benar-benar sibuk dan berdecak kagum), dan menyentuh emosi (munculnya kegairahan dan keterlibatan ketika membaca buku tersebut).
Nah, metode ”clustering” itu baru akan efektif digunakan jika si pengguna memiliki kekayaan bahasa.
Sisi kedua yaitu sisi materi dari sebuah ide terkait dengan apakah materi yang dikandung oleh ide itu sudah digulati lama oleh si penulis atau belum. Jika ide itu baru muncul dan belum lama, tentu perlu ada pengembangan dan pemerkayaan. Lewat teknik ”clustering”, ide itu bisa dibuka dan dibuat bercabang-cabang. Dan kadang, sifat pengembangan ide ini benar-benar bebas memanfaatkan otak kanan. Bahkan, kadang pengembangan itu perlu tidak memenuhi logika (artinya, otak kiri ”dimatikan” fungsinya). Pokoknya apa saja yang dapat dihubungkan harus segera dihubungkan (dikaitkan).
Lantas, pengembangan itu tidak hanya berhenti pada pengembangan saja dalam bentuk ”peta pikiran” (mind map). Perlu dirumuskan secara per ”cluster” (kelompok). Artinya, si penulis atau si pengembang ide ini mulai mengait-ngaitkan antara cabang yang satu dengan cabang yang lain dalam bentuk tulisan, lalu hasil tulisan per kelompok itu disimpan. Pengembanganj ide perlu kesabaran dan ketelatenan tingkat tinggi. Jika macet, harus berhenti. Jangan dipaksakan untuk diteruskan. Ada kemungkinan pengembangan atau penulisannya dilanjutkan pada waktu yang lain.
Semoga bermanfaat.

source: sekolah-menulis
Comments (0)

Hambatan Membaca dan Cara Mengatasinya
by Wisma Widhi in

Hambatan Membaca & Cara Mengatasinya
A. Rendahnya Motivasi
Sering kali saat  membaca, kita tidak memiliki motivasi yang kuat atas bahan bacaan. Motivasi yang kurang ini secara mental akan membuat kita membaca dengan lambat dan otak tidak dirangsang untuk bekerja dan memahami apa yang kita baca.
Kunci untuk mengatasi hambatan ini adalah : selalu tanyakan pada diri kita sendiri AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku?) saat membaca satu bacaan. Pakailah 5W1H untuk mematok target kapan bahan bacaan itu akan diselesaikan.
B. Sulit berkonsentrasi
Ketika kita  tidak berkonsentrasi,  informasi yang diterima oleh mata yang diteruskan ke otak tidak mendapat perhatian yang cukup sehingga kita kehilangan pemahaman atas bahan bacaan dan harus mengulangnya berkali-kali. Pengulangan ini disebut sebagai regresi.
Kunci untuk mengatasi hambatan ini adalah mencari suasana yang menyenangkan dan nyaman saat membaca, yang jauh dari kebisingan dan mempunyai cahaya penerangan yang cukup. Agar bisa menyerap informasi dengan maksimal, posisi alfa  (posisi duduk tegak, rileks, dengan kedua telapan kaki menyentuh lantai) saat membaca sangat dianjurkan.
C. Kebiasaan Buruk dalam Membaca
1. Vokalisasi ( Membaca dengan bersuara)
Yakni mengucapkan kata demi kata secara lengkap, bisa dengan bersuara lantang, ataupun dengan suara samar/tidak jelas (menggumam).
Untuk mengetahui apakah kita mengucapkan kata-kata atau tidak, letakkan tangan di leher ketika membaca. Bila getaran terasa di jakun, itu berarti kita membaca dengan bersuara.
Tips Mengatasinya :
Lakukan gerakan seperti meniup (bibir bersiul) pada saat membaca, dan letakkan tangan di leher.
2. Gerakan Bibir
Menggerakkan bibir pada saat membaca, walaupun tanpa bersuara, juga akan membuat kecepatan baca menjadi melambat 4 kali dibandingkan jika membaca dengan diam/tanpa bersuara.
Tips Mengatasinya :
Rapatkan bibir kuat-kuat. Tekanlah lidah ke langit-langit atas.
Mengunyah permen karet
Bibir dalam posisi bersiul, tapi tanpa suara.
3. Gerakan Kepala
Saat masa kanak-kanak, jangkauan penglihatan kita tidak memungkinkan menguasai penampang bacaan (dari kiri hingga kanan). Karena itulah kita menggerakkan kepala dari kiri dan kanan untuk membaca baris-baris bacaan secara lengkap. Saat dewasa, jangkauan penglihatan kita telah mampu menguasai penampang tersebut secara optimal, sehingga seharusnya mata saja yang bergerak.
Namun demikian, karena kebiasaan masa kecil, kita masih sering menggerak- gerakkan kepala dengan menggesernya.
Tips Mengatasinya :
- Letakkan telunjuk jari ke pipi dan sandarkan siku tangan ke meja selama membaca. Apabila terasa tangan terdesak oleh gerakan kepala, itu berarti Anda masih menggerakkan kepala dalam membaca. Usahakanlah untuk menghentikannya.
- Tangan memegang dagu, seperti memegang jenggot. Bila kepala Anda bergerak, terasa dagu Anda juga bergeser. Usahakanlah untuk menghentikan gerakan itu.
- Letakkan ujung Jari di hidung. Bila kepala anda bergerak, anda akan menyadarinya. Berusahalah untuk menghentikannya.
4. Menunjuk Dengan Jari
Kebiasaan ini timbul karena saat masih belajar membaca, kita selalu menunjuk kata demi kata dengan jari, agar tak ada kata yang terlewati. Kebiasaan ini sering dipertahankan hingga dewasa, padahal sangat menghambat kecepatan baca, Karena gerakan tangan lebih lambat dari pada gerakan mata.
Tips Mengatasinya :
- memasukkan tangan ke saku ketika membaca
- Memegang buku selama membaca.
5. Regresi
Dalam membaca, mata bergerak dari kiri ke kanan untuk menangkap kata-kata yang terletak berikutnya. Namun sering mata bergerak kembali ke belakang untuk membaca ulang suatu kata atau beberapa kata sebelumnya. Kebiasaan inilah yang disebut dengan regresi. Hal ini kebanyakan dilakukan karena merasa kurang  yakin dalam memahami kata atau kalimat sebelumnya.
Tips Mengatasinya :
- Menanamkan kepercayaan diri pada saat membaca. Jangan terpaku pada detail.
- Bila anda merasa ada yang terlewati, biarkan saja.
- Berkonsentrasilah dalam membaca, jangan sampai melamun.
6. Subvokalisasi
Yakni melafalkan kata-kata  dalam batin/pikiran. Kebiasaan ini juga menghambat karena konsentrasi akan lebih terfokus pada ‘bagaimana melafalkan dengan benar’, dan bukannya ‘memahami ide’ yang terkandung dalam kata-kata tersebut.
Tips Mengatasinya :
- Memperlebar jangkauan pandangan mata (fiksasi), sehingga mata dapat menangkap beberapa kata sekaligus. Dengan cara ini, otak akan menyerap informasi berdasarkan ide ‘garis besar’nya yang terdiri dari gabungan kata, dan tak terpaku pada pelafalannya.

source: supersuga
Comments (0)

TUGAS, FUNGSI, PERANAN, SUB DIFISI TATA BOGA
by Wisma Widhi in


1.           Pantry Section
a).    Tugas Pantry section
Pantry section memiliki tugas untuk menyiapkan makanan breakfast.
→    Continental Breakfast
→    English Breakfast
→    American Breakfast
→    Indonesian Breakfast
b).   Fungsi pantry section
Pantry section mempunyai fungsi untuk menyiapkan bahan makanan yang akan diolah menjadi breakfast.
c).    Peranan pantry section
Pantry section mempunyai peranan penting dalam suatu hotel dan bertanggung jawab untuk menyiapkan breakfast.
2.           Roast Section
a).    Tugas Roast Section
Tugas Roast Section adalah memasak makanan yang terbuat dari meat, fish, dan poultry dengan menggunakan metode roasting (diguling) serta membuat bumbu, sauce, dan garnish untuk makanan tersebut.
b).   Fungsi Roast Section
Fungsi Roast Section adalah menyiapkan berbagai jenis daging, ikan (seafood) dan poultry untuk diolah dengan metode roasting dan menyiapkan berbagai bahan untuk diolah menjadi bumbu, sauce, dan garnish untuk makanan tesebut.
c).    Peranan Roast Section
Roast Section mempunyai peranan penting dan bertanggung jawab menyiapkan berbagai jenis makanan yang diolah secara roasting.
3.           Grill Section
a).    Tugas Grill Section
Grill Section mempunyai tugas untuk memasak makanan yang terbuat dari meat, fish (seafood) dan foultry dengan metode Grill(dipanggang) dan Frying (digoreng), serta membuat bumbu, souce dan garnish untuk makanan tersebut.
b).   Fungsi Grill Section
Grill Section mempunyai fungsi untuk menyiapkan bahan makanan seperti daging, ikan (seapood) dan poultry yang akan diolah secara Grilling dan Frying serta menyiapkan bahan untuk bumbu, souce dan garnish untuk makanan tersebut.
c).    Peranan Grill Section
Grill Section mempunyai peranan penting dan bertanggung jawab untuk menyiapkan berbagai makanan yang diolah secara Grilling dan Frying.
4.           Sauce Section
a).    Tugas Sauce Section
Tugas Sauce Section adalah memasak makanan yang terbuat dari meat dan poultry dengan metode panas basah seperti Boiling, Braising, Steaming dan Stewing serta membuat bumbu, sauce, dan garnish untuk makanan tersebut.
b).   Fungsi Sauce Section
Sauce Section mempunyai fungsi untuk menyiapkan bahan seperti meat dan poultry yang akan diolah dengan metode panas basah seperti Boiling, Braising, Steaming, dan Stewing serta menyiapkan bahan untuk bumbu, sauce dan garnish untuk makanan tersebut.
c).    Peranan Sauce Section
Sauce Section mempunyai peranan penting dan bertanggung jawab untuk menyiapkan berbagai jenis makanan yang diolah dengan metode panas basah seperti Boiling, Braising, Steaming, dan Stewing.




5.           Fish Section
a).    Tugas Fish Section
Tugas Fish Section adalah memasak makanan terbuat dari fish dan shelfish, seafood dengan metode panas basah seperti Boiling, Braising, Steaming. Membuat bumbu, sauce, dan garnish untuk makanan tersebut.
b).   Fungsi Fish Section
Fish Section mempunyai fungsi untuk menyiapkan bahan seperti fish, shelfish, seafood yang diolah dengan metode panas basah serta menyiapkan bahan-bahan untuk bumbu, sauce, dan garnish makanan.
c).    Peranan Fish Section
Fish Section mempunyai peranan penting dalam suatu holel dan bertanggung jawab untuk menyiapkan makanan yang terbuat dari fish, dan shelfish yang diolah dengan metode panas basah.
6.           Soup Section
a).    Tugas Soup Section
Tugas utama dari Soup Section adalah memasak memasak semua jenis soup yaitu makanan yang cair atau didominasi oleh cairan, serta memasak bumbu dan garnish untuk masakan tersebut.
b).   Fungsi Soup Section
Fungsi Soup Section adalah menyiapkan makanan yang diolah menjadi soup seperti sayur-sayuran serta menyiapkan bahan-bahan untuk bumbu dan garnish untuk soup.
c).    Peranan Soup Section
Peranan Soup Section dalam suatu hotel sangat penting karena Soup Section yang mempunyai tanggung jawab untuk menyiapkan berbagai jenis masakan soup.
7.           Vegetable Section
a).    Tugas Vegetable Section
Tugas Vegetable Section adalah sebagai berikut:
1.      Memasak makanan yang terbuat dari sayuran (vegetable dishes)
2.      Memasak makanan yang terbuat dari kentang (potato dishes)
3.      Memasak makanan yang terbuat dari beras (rice dishes)
4.      Memasak makanan yang terbuat dari pasta (pasta dishes)
5.      Memasak bumbu dan garnish untuk masakan tersebut.
b).   Fungsi Vegetable Section
Vegetable Section mempunyai fungsi menyiapkan berbagai bahan masakan seperti sayur, beras, kentang, pasta dan lain-lain, serta menyiapkan bahan bumbu dan garnish untuk masakan tersebut.
c).    Peranan Vegetable Section
Peranan Vegetable Section dalam suatu hotel sangat penting karena Vegetable Section bertanggung jawab untuk menyiapkan semua jenis masakan yang diolah dari berbagai jenis vegetable.
8.           Butcher Section
a).    Tugas Butcher Section
Tugas Butcher Section adalah:
→    Memotong meat, fish (seafood) dan poultry hingga siap dimasak atau ready to cook (RTC). Daging ini kemudian dimasak oleh bagian lain hingga siap dihidangkan atau ready to eat (RTE).
→    Menyimpan atau mejaga kuantitas dan kualitas meat, fish, poultrysaat digunakan.
b).   Fungsi Butcher Section
Fungsi utama dari Butcher Section adalah mengolah berbagai bahan masakan seperti meat, fish dan poultry yang baru datang atau dibeli dari suplyer hingga siap untuk dimasak oleh bagian lain serta menyimpan dan menjaga kuantitas dan kualitas bahan tersebut hingga saat digunakan.



c).    Peranan Butcher Section
Butcher Section mempunyai peranan penting dalam suatu hotel dan memiliki tanggung jawab dalam mengolah berbagai bahan masakan yang baru datang dari suplyer hingga bahan tersebut siap dimasak oleh bagian lainnya.
9.           Gardemanger Section
a).    Tugas Gardemanger Section
Tugas utama dari Gardemanger Section mencakup:
→    Membuat semua jenis makanan pembuka (Appetizer)
→    Membuat semua jenis salat
→    Membuat semua jenis sandwiches dan canapies
→    Menyusun Cold Buffet
→    Membuat Buffet Decorations
b).   Fungsi Gardemanger Section
Gardemanger Section mempunyai fungsi untuk menyiapkan berbagai bahan maasakan yang akan diolah menjadi makanan pembuka seperti salat, sandwiches dan canapies.
c).    Peranan Gardemanger Section
Gardemanger Section mempunyai peranan penting karena subdivisi ini memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan semua jenis hidangan pembuka (Appetezer)
10.       Bakery Section
a).    Tugas Bakery Section
Tugas utama Bakery Section adalah membuat semua jenis roti (breads)
b).   Fungsi Bakery Section
Fungsi Bakery Section adalah menyiapkan berbagai bahan yang akan diolah menjadi roti.
c).    Peranan Bakery Section
Bakery Section mempunyai peranan pentin dan bertanggung jawab untuk menyiapkan atau memproduksi berbagai jenis roti.
11.       Pastry Section
a).    Tugas Pastry Section
Pastry Section mempunyai tugas dalam:
→    Membuat jenis kue manis (pastry and cake)
→    Membuat berbagai jenis ice cream
→    Membuat hiasan makanan dari gula (sugar modeling)
b).   Fungsi Pastry Section
Fungsi dari Pastry Section adalah menyiapkan bahan-bahan yang akan diolah menjadi kue masis, ice cream dan hiasan makanan dari gula
c).    Peranan Pastry Section
Pastry Section mempunyai peranan penting dan bertanggung jawab untuk menyiapkan berbagai jenis hidangan penutup (dessert).

DUA CONTOH KERJASAMA ANTAR SUBDIVISI TATA BOGA
  1. Kerjasama Soup Section dengan Vegetable Section yaitu pada saat Soup Section dalam membuat soup pasti akan membutuhkan Vegetable Section karena campuran soup adalah sayur-sayuran dan bahan lain, oleh karena itulah mereka bekerja sama.
  2. Kerjasama Bakery Section dengan Pastry Section yaitu pada saat membuat hidangan dessert untuk membuat hidangan yang bervariasi, contohnya ice cream dicampur dengan roti atau kue-kue yang lain. Itulah kerjasama Bakery Section dengan Pastry Section.
Comments (0)